Dari judulnya "Dua Sejoli" Pantai Parang Tritis & Parang Kusumo kalian pasti sudah tahu, dua pantai yang berdekatan lokasinya ini dan sangat luas. Berpasir putih kecoklatan kedua pantai tersebut merupakan destinasi wisata terfavorit di wilayah DI Yogyakarta. Kalian para sobat PeHa Channel bisa lihat bagaimana perjalanan dan suasana malam di lokasi lewat video disini
Saya tidak datang sendiri ke pantai Parang Tritis dan Parang Kusumo ini, tapi bersama dengan seorang teman. Dari teman saya yang bernama Agus ini, saya baru memahami bahwa di kedua pantai tersebut tiap tahun pada hari tertentu pasti diselenggarakan acara "Larungan". Saya belum tahu pasti nama acaranya, yang jelas pada hari tersebut diadakan tradisi larung oleh pihak Keraton. Namun justru bukan dari keraton Kesultanan Yogyakarta, tetapi dari Keraton Mangkunegaran Solo/Surakarta.
Wah ini jelas menarik minat dan rasa penasaran, ada sejarah apa di balik acara tersebut. Teman saya, Agus selalu saya ajak diskusi terus, para wisatawan yang sengaja datang ke acara tersebut pun, kebanyakan memang dari wilayah Karesidenan Surakarta. Tentu saja yang masih mempertahankan tradisi leluhur mereka, yaitu larungan.
![]() |
| Saat dalam perjalanan |
Pada awal perjalanan ini, kebetulan saat malam minggu dan teman saya mengajak datang mengunjungi sebuah event Larungan di Parang Tritis. Agus bilang ada beberapa kenalannya sudah ada di lokasi acara sejak sabtu siang, setelah kontak telepon mengenai kapan dan bagaimana acara Larungan tersebut, pada malam hari itu juga kami sepakat untuk pergi ke sana. Jadi kami berangkat pukul 10 malam, naik motor berboncengan berbekal seadanya yaitu niat dan semangat.
Dari kota tempat tinggal saya, Sukoharjo kami menyusuri rute Tawangsari melewati jalur Bayat- Wedi hingga Prambanan. Lalu sebelum masuk kota Jogja kami berbelok kiri melewati fly over timur Jogja menuju arah pantai Parang Tritis.
Pada waktu tiba di wilayah Bantul, nama tepat kampungnya kurang tahu, disitu ban belakang bocor. Dan parahnya harus ganti ban dalam, tapi gak masalah karena teman saya sudah lebih paham bagaimana menemukan bengkel terdekat.
Waktu menunjukkan hampir jam satu malam, dan bengkel motor yang kami temui atas informasi dari pedagang hik di pinggir jalan, masih tidak keberatan untuk mengganti ban dalam motor Honda Vario saya.
Setelah berterimakasih kepada bapak bengkel yang telah membantu, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pantai Parang Tritis, tujuan utama kami.
Pada saat kami tiba di lokasi, acara ternyata sudah usai, acara utamanya maksud saya karena acara Larungan dilaksanakan pada siang hari. Namun pada malam harinya kami masih kebagian suasana ramainya pasar malam. Pada malam itu, meski waktu sudah masuk dinihari namun pasar malam belum usai. Karena disebuah halaman dari suatu pendopo dipertunjukkan kesenian wayang kulit, yang pasti akan sampai subuh baru berakhir.
Setelah mendapatkan tempat parkir untuk motor, kami pun mulai jalan-jalan menikmati pasar malam. Berkeliling memutari area pasar malam yang di selenggarakan di Pantai Parang Kusumo. Sesekali kami berhenti di lapak salah satu pedagang sekedar basa basi menawar barang yang di pajang. Kemudian jalan berkeliling lagi hingga berhenti pada sebuah warung makan, nasi goreng, yaa warung makan nasi goreng yang cukup lega suasananya dan kami pun memutuskan untuk makan di situ. Sebuah warung permanen di halaman rumah warga, tepat di pinggir kelokan jalan.
Setelah perut terisi kami lanjutkan jalan menuju ke pantai, teman saya, Agus, bilang bahwa kita harus segera cari tempat untuk tidur. Meski satu atau dua jam harus diusahakan tidur, sebab Agus sejak malam sebelumnya sudah kurang tidur dan siangnya masih tetap bekerja. Aku ikut saja karena baru kali pertama aku akan merasakan tidur di hamparan pasir pantai.
Dan waoow.... Saya sempat terkejut, karena di hamparan pasir pantai Parang Kusumo itu telah penuh dengan manusia. Ramai sekali, ada yang mendirikan tenda dan adapula yang hanya menggelar tikar yang disewa dari tukang penyewa tikar (hmmm apa istilahnya yaa, kurang pas rasanya).
Sementara saya sendiri sudah membawa flysheet untuk menjadi alas tempat kami rebahan di atas pasir pantai Parang Kusumo.
Tetapi sebelum itu kami harus berputar-putar dahulu mencari tempat yang lega, karena memang hampir sudah tidak ada tempat, saking banyaknya pengunjung. Dan kami berhasil mendapatkan tempat di dekat garis pantai, namun ombak tidak akan sampai ke tempat kami menggelar alas tidur.
Teman saya langsung merebahkan tubuhnya untuk tidur, sementara saya masih menikmati suasana malam yang ramai itu. Terdengar di sebelah utara kami sekumpulan anak muda bernyanyi dan bermain gitar di depan api unggun. Ada pula yang berjalan-jalan di bibir pantai, berbasah ria. Sesekali terdengar suara tawa yang lepas, dan pokoknya seru sekali suasananya !!!
** Untung saja harinya memang tepat bukan saat bulan purnama, sehingga tidak akan terjadi air pasang....
Haahaa 😜 **
Saya pun akhirnya terserang kantuk juga, dan saya coba merebahkan diri agar bisa tidur, tapi ternyata tidak bisa tidur sampai subuh tiba. Daripada bengong saja, saya sibukkan diri dengan merekam beberapa momen pada saat itu.
Sobat PeHa Channel yang terhormat, coba simak videonya pada sepertiga durasi akhir video, disitu kalian bisa ikut merasakan keseruan berkemah massal di pantai....
Keseruan itu terus berlanjut hingga pagi dan siang hari, hari minggu yang tepat untuk berwisata di lokasi "Dua Sejoli" pantai Parang Tritis dan Parang Kusumo.
Sekitar pukul sembilan pagi, ketika kabut sudah mulai hilang, kami berjalan-jalan di pantai. Sepanjang pantai Parang Kusumo sampai Parang Tritis penuh dengan aktifitas ribuan wisatawan. Baik yang tadi malamnya berkemah di pantai, maupun baru tiba pagi itu.
Kalau saya bilang SPEKTAKULER !!
DUA SEJOLI memang SPEKTAKULER !!
Jangan lupa Subscribe PeHa Channel di 📺 Youtube yaa..



0 Komentar