Halo sobat.... PeHa Channel kali ini ingin berbagi cerita tentang pengalaman saat bertualang menjelajah sampai ke Waduk Kedung Ombo. Maaf Video perjalanannya tidak sempat terekam, hanya ada video singkat saja saat tiba di lokasi Waduk Kedung Ombo, dari arah Juwangi. Video berjudul Ada Cinta di Kedung Ombo ini masih sederhana dan seadanya. Jujur saja saat upload video bahannya hanya sedikit yang sempat saya rekam. Namun saya coba untuk menceritakan kisahnya disini.
Kisah ini dimulai dari Gemolong, Sragen, penasaran rasanya pingin mengunjungi Waduk Kedung Ombo, dan mestinya harus lewat jalur yang baru. Kesampaian juga akhirnya ketika ada waktu luang saya berangkat dari rumah agak siangan, sekitar pukul sembilan. Meluncur ke tujuan dengan penuh semangat, namun juga sedikit khawatir mengenai kalkulasi BBM dan isi dompet saya. Seperti yang sudah saya perhitungkan sebelumnya bakal cukup untuk perjalanan sampai pulang lagi nantinya. Tetapi saya kan belum tahu jalurnya yang pasti hanya lihat di map, kelihatannya sih dekat dekat saja.
Ternyata memang jalurnya sungguh sangat membingungkan, karena sama sekali saya belum pernah sampai ke jalur ini, bahkan membayangkan seperti apa nanti pun tidak pernah. Hanya mengandalkan google map, yang seperti biasa tidak sesuai harapan. Jalur Gemolong ke barat arah Karanggede ternyata banyak yang berlubang.
Yaah tapi bagaimana pun juga ini adalah memang bagian dari kisah petualangan saya, dan ini saya bagikan untuk sobat pembaca blog dan pemirsa video PeHa Channel semua, semoga kalian berkenan.
Nah kisah petualangannya kita mulai lagi, jadi saat itu di terik matahari yang menyengat, saya mulai menarik gas dari kota Gemolong Sragen menuju ke arah kota Salatiga. Dalam kondisi cuaca panas tersebut, saya coba cari jalan menuju kecamatan Miri, masih di wilayah kabupaten Sragen. Namun tidak saya lihat, atau mungkin terlewat yaa, mungkin saking asyiknya menikmati suasana sehingga keterusan.
Pada suatu ketika saya sampai pada persimpangan, disitu ada papan yang tertulis "Wana Wisata Kedung Ombo". Ternyata saya sudah berada di wilayah Kemusu, sebuah kecamatan yang masuk Kabupaten Boyolali. Tanpa pikir panjang saya langsung berbelok ke kanan, menurut arah panah ke lokasi Wana Wisata tersebut, entah seperti apa nanti pokoknya libas saja...
Hutan atau wana untuk tujuan wisata Kedung Ombo yang saya maksudkan ini berada di sebelah barat Waduk. Bisa dicapai dari Kemusu dan Karang Gede, nanti kedua jalur ini bertemu pada titik pertigaan Desa Ngaren, Juwangi.
Bingung di Tengah Hutan
Ketika saya tiba di Desa Ngaren, disitu dominan adalah hutan. Namun ada jalan beraspal yang masih lumayan bagus, jarang ada lubang. Jalan tersebut jika dirunut akan sampai ke Kota Juwangi dan jika diteruskan lagi maka akan sampai ke kota kecamatan Gubug, Grobogan. Tetapi saya memasuki hutan Ngaren tersebut hanya berhenti pada sebuah perempatan tepat di tengah hutan. Sebuah kendaraan angkutan umum memberi tanda klakson ketika melihat saya berhenti di depan papan penunjuk bertuliskan "Waduk Kedung Ombo -->" .
Tanda panah menunjukkan arah ke Waduk Kedung Ombo, sudah pasti melegakan hati saya. Karena saya benar-benar sendiri di persimpangan di tengah hutan tersebut. Tapi tanda panah tadi menunjuk ke arah jalan tanah bercampur batu batuan alias makadam, yang tidak rata.
Sejenak aku tengok posisi jarum penunjuk BBM, hmmm... Masih dua strip !!
Karena di map saya lihat ada sekian kilometer ke arah tanda panah, nantinya tidak akan ada pemukiman. Jadi saya masih sedikit lega, jika menurut perhitungan keiritan motor maka perjalanan ke arah waduk akan baik baik saja. Dan sampai di pemukiman nanti, saya pikir pasti akan ada yang jualan bensin. Mantaplah .
Masalah BBM sudah terselesaikan, sekarang tinggal bersiap menghadapi jalanan makadam di tengah hutan. Setelah puas beristirahat dan berfoto foto, akhirnya perjalanan saya lanjutkan. Dan wah serunya...
Pengalaman baru kali ini untuk saya berkendara motor menerjang jalan makadam yang sesekali bergelombang di tengah hutan. Kadang menjumpai kubangan air dan lumpur, yang harus dilewati ekstra hati hati.
Pada sekian petak hutan kemudian baru saya berpapasan dengan pengendara motor lain. Ada yang terpaksa lewat jalan ini juga rupanya, yang pasti tentu warga lokal. Saya pun memberi salam seperti dia juga yang mendahului menyapa. Rasanya sungguh memompa semangat di tengah perjuangan menaklukkan rintangan jalan.
Meskipun tidak sempat ngobrol, namun sorot mata dan keramah tamahannya membuyarkan semua ketakutan dan kecemasan hati saya. Sebentar lagi pasti akan ada perkampungan nih, pikir saya.
Dan memang benar, sekian jarak di depan sudah terlihat ada tempat terbuka. Ada satu dua orang disana terlihat sedang beraktifitas di ladang, eehh bukan !!
Memang ada tanaman palawija disana namun setelah semakin dekat, ternyata itu adalah hutan kayu yang sudah di panen. Jadi pohonnya sudah ditebang dan hanya menyisakan ranting dan dahan kecil. Di sela sela bekas tebangan pohon tersebut ada sebagian yang ditanami dengan palawija. Berarti di sekitar area tersebut ada pemukiman, mungkin agak masuk ke dalam alias keluar dari jalur jalan utama yang saya lewati.
Sampai disini saya jadi berpikir, di tempat terpencil ini (masih di wilayah Kabupaten Boyolali) ternyata baru saya memahami sesuatu tentang hutan. Dalam hal itu adalah mengenai proses panen kayu dari sebuah hutan perkebunan. Pada suatu titik dimana saya menyaksikan pemandangan fantastis kala itu, dan saya berada ditengah tengahnya.
Di seberang jalan sebelah kanan, entah mana arah mata angin yang tepat, saya kurang pasti. Yang pasti di sebelah kanan jalan yang saya lewati, hanya tampak pohon pohon jati yang mengering. Jadi hanya tinggal bentuk batang dahan dan rantingnya yang tampak artistik, karena daunnya sudah tidak ada. Saya pikir ini karena sesuatu, pada saat saya datang ke tempat ini musimnya masih musim penghujan. Jadi kenapa pohon jati itu merangas. Kesimpulan saya waktu itu, ini pasti memakai bahan kimia tertentu bisa dibilang perontok daun untuk memudahkan panen kayu atau apalah ??... Yah itu cuma angan angan saya saja yang sok pintar sobat, mohon maaf
Tapi kala itu pemandangan sangat kontras, disebelah kanan jalan, hutannya merangas tinggal batang dan ranting saja. Sementara di sebelah kiri jalan pepohonan masih hijau dan rimbun. Aaah
Dan inilah akhir cerita penjelajahan saya, ke Waduk Kedung Ombo. Simak video sederhananya di youtube, peha channel.
Terimakasih




0 Komentar